Jumat pagi beberapa hari yang lalu, ayahku menelpon. Istriku
yang mengangkat, sementara aku masih sibuk menyiapkan sarapan. Maklum, suami
siaga menjelang kelahiran anak pertama kami.
Saya yakin. Banyak jomblo percaya bahwa jodoh itu sudah
ditentukan. Yah gak? Itulah alasan banyak jomblo bersikap apatis untuk
berikhtiar mendapatkan jodohnya. Katanya, “Toh jodoh sudah ditentukan. Untuk
apalagi berikhtiar.”
Lagi-lagi Ahok. Sepertinya, belum ditemukan kata penutup
untuk menyudahi bahasan dengan Ahok. Dan beruntungnya saya. Saya selalu punya
kata-kata untuk disampaikan kepada dunia. Pesannya, “Kami punya Ahok.”
Setelah Jakarta, Garut adalah kota yang istimewa bagiku. Sebab,
disitulah kutemukan jodohku. Namanya juga jodoh. Gak bisa diprediksi di tempat
seperti apa jodohku terungkap.
Saat menikah dulu. Musim hujan masih berlangsung. Garut terkenal
dinginnya (kalau malam). Ditambah hujannya yang lumayan awet. Ah sudahlah.. gak
kebayangkan “penganten baru” yang terjebak dalam situasi seperti itu.
Dunia game-online sedang gembar dengan kehadiran
sebuah game berbasis GPS...apalah, gak ngerti juga...yang bernama “Pokemon GO”.
Gak ngerti juga mainnya kayak gimana? Saya gak tega download game
tersebut. Maklumlah, smartphone saya tak secanggih mereka yang masygul
dengan game ini.